Home / Budaya Batak

Leluhur Batak Dipresiksi Berasal dari India Tamil
Penulis: | Minggu, 26 Nopember 2017 | 08:04 WIB Dibaca: 569 kali

Leluhur Batak Dipresiksi Berasal dari India


Riaubangkit.com - Tahun 1824, dua orang pendeta Baptis dari Amerika Serikat, Richard Burton dan Nathanael Ward mengunjungi Silindung. Keduanya terpesona melihat tata kehidupan di pinggir Danau Toba, di Tanah Batak. Tidak hanya mereka yang terpesona. Dunia barat mulai tergoda. Tahun 1927, pemerintah Belanda menugaskan Verguwen untuk melihat kehidupan dan mempelajari peradilan asli di Tanah Batak. Setelah kerja secara terus-menerus selama tiga tahun, dia berhasil mengumpulkan keterangan mengenai kehidupan masyarakat, kepercayaan asli serta sekilas adat Batak Toba. Tanah Batak adalah tanah yang indah, dan kehidupan Batak telah punya hukum. Sejak dulu orang Batak sudah mempunyai hukum adat yang ketat. Umumnya diselenggarakan “bius.” Bius adalah perkumpulan beberapa kampung yang mewadahi satu hukum bersama. Dari pengamatannya itu Verguwen kemudian menyusun satu buku dan diterbitkan tahun 1933 dalam bahasa Belanda.

Kata “Batak” berarti si penunggang kuda, berasal dari “mamatak hoda.” Leluhur Batak dipresiksi berasal dari India Tamil. Hal ini bisa diteliti dari sejarah. Orang-orang India sudah sejak berabad-abad lalu menginjakkan kaki di Hindia Belanda. Diperkirakan pada abad ke-10 mereka berdagang rempah-rempah ke pulau Sumatera melalui pelabuhan Barus. Pada masa itu sedang berkembang kerajaan Majapahit (Hindu) dan Sriwijaya (Budha). Ketika pembukaan perkebunan di Sumatera Timur pada abad ke-17 dan 18, banyak pekerja pendatang yang berasal dari provinsi Tamilnadu, di India Selatan. Mereka memeluk agama Kristen. Sedangkan tahap terakhir, abad ke-19 dan 20 saat berlangsung hubungan dagang India-Indonesia. Asumsi mengenai asal-usul Batak tersebut dibahas dalam “Batak Toba: Kehidupan di Balik Tembok Bambu.”

Selain dalam Bahasa Indonesia, buku tentang sejarah Batak ini juga telah diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Universitas Michigan. Dalam buku ini, Bisuk Siahaan menjelaskan bahwa kebudayaan India sangat erat dengan kehidupan masyarakat Sumatera, khususnya Batak. Pada abad ke-18 permukiman kuno warga Tamil India ditemukan di Lobu Tua, Barus. Saat ditemukan, permukiman penduduk Tamil tersebut sudah berusia lebih dari dua abad. Dua prasasti berbahasa Tamil yang ditemukan di kawasan itu menyatakan bahwa pada tahun 1088 sebanyak 1.500 warga Tamil datang ke Barus untuk berdagang kapur barus dan “haminjon” atau kemeyan.
Tembok Bambu

Di Balik Tembok Bambu menggambarkan kehidupan yang keras, kasar, tanpa kompromi yang menjadi stereotip orang Batak di mata etnis lain di Indonesia.

Tembok bambu yang dirujuk dalam judul buku ini mengisyaratkan tentang bagaimana bentuk masyarakat Batak yang solid. Perkampungan mereka dibuat dengan menggali tanah yang membentuk parit. Parit tersebut mengelilingi huta (perkampungan). Di atas parit yang mengelilingi perkampungan itu ditanami bambu dengan tebal tanah setinggi tiga meter. Tembok terdiri dari tanah liat dan batu. Di atas tanah yang menyerupai benteng tadi ditanam dua jalur bambu yang berbeda jenisnya.

Di celah-celah tembok digali selokan. Jalan air yang terdapat di sebelah dalam tembok itu disebut suha bagasan dan yang di sebelah luar suha balian. Selokan tersebut selain mengalirkan air juga berfungsi mencegah banjir. Sepanjang suha dipasang pipa saluran air yang disebut “ponot.” Dikelilingi tembok bambu itu berdiri perkampungan Batak dengan rumah-rumah warga. Di sanalah mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Rumah-rumah digoresi dengan hiasan “gorga.” Gorga adalah ornamen yang mengandung unsur mistis untuk menolak bala. Jenis ornamen itu ada yang berbentuk manusia. Ukiran gorga merupakan hasil pahatan tradisional yang biasanya ditempatkan di dinding rumah bagian luar.

Di sebelah kiri dan kanan tiang rumah ada “odap-odap,” ukiran yang menggambarkan payudara sebagai lambang kesuburan. Ada “boraspati” (cicak) sebagai lambang penjaga dan pelindung rumah. Sementara singa-singa dan jaga dompak berperan sebagai penolak bala (hal. 383).

Rumah Batak juga disebut “Si Baganding Tua.” Si Baganding Tua adalah makhluk seperti ular yang panjangnya sekitar dua jengkal. Dahulu kala, nenek-moyang orang Batak percaya pada nasib mujur dan rezeki yang melimpah yang dibawa “Si Banganding Tua.”

Dalam perkembangannya, kata Baganding Tua atau Pangalapan Tua menjadi sebutan bagi istri sebagai penjaga rumah. Sementara laki-laki (suami) diistilahkan Simanguliman. Mitologi yang berkembang di masyarakat mengatakan bahwa jika seorang istri meninggal dunia, maka “Pangalapan Tua” meninggalkan rumah tersebut. Yang berarti rezeki sudah meninggalkan rumah, dan sang suami harus membangun hidup baru kembali.
Dengke Jahir

Sumber pendapatan masyarakat Batak adalah pertanian. Sebelum menggarap tanah mereka menyelenggarakan ritus tertentu terlebih dulu. Ritus yang umunnya diselenggarakan oleh parbaringin, orang yang menjadi imam dalam ritus-ritus kuno orang Batak. Parbaringin selalu mengenakan konde yang terbuat dari daun pohon beringin.

Setelah padi dipanen, ada acara khusus yang bernama ”mardege,” yaitu acara untuk merontokkan bulir-bulir padi yang dilakukan oleh para pemuda di dalam huta. Padi kemudian dikumpulkan dalam satu ”luhutan,” semacam lumbung yang terletak di samping rumah.

Banyak hal dalam buku ini yang bersifat informatif. Misalnya, tidak banyak yang tahu bahwa ikan asli yang berkembang-biak di Danau Toba bukanlah ikan mas dan ”dengke jahir” atau yang dikenal sebagai ikan mujair yang disebarkan oleh Belanda. Menurut Siahaan, ikan yang asli di Danau Toba adalah ikan pora-pora dan ihan atau ikan Batak. Buku ini juga menampilkan kronik sejarah Tanah Batak, termasuk mitologi ”Sianjur Mula-mula” di Pusuk Buhit sebagai asal-muasal orang Si Raja Batak. Juga disunggung serangan terhadap Tanah Batak oleh pasukan Pidari atau dikenal sebagai Paderi.

Sang penulis, Bisuk Siahaan, adalah arsitek di balik proyek raksasa “Si- Gura-Gura.” (baca TAPIAN, Agustus 2008). Di masa pesiunnya, lelaki asal Balige ini produktif dalam menulis buku tentang Tanah Batak. Dia menulis terdorong oleh kecemburuannya pada peneliti Eropa yang kelihatannya lebih mengetahui Tanah Batak daripada orang Batak sendiri.. Dalam menulis buku ini, Siahaan (disertai istrinya, Riste Tambunan) melancong ke berbagai penjudu dunia untuk mencari buku-buku tentang Batak, dan penelusuran panjang tersebut melahirkan ”Kehidupan di Balik Tembok Bambu.” (Oleh : Kardo Hutasoit/rbc/net)

[ Kembali ]
Berita Terkait
Minggu, 27 Januari 2019 | 16:20 WIB
Sikorem Sitompul Terpilih Jadi Ketua Punguan Sitompul dan Boru Pekanbaru
Kamis, 19 April 2018 | 04:57 WIB
Wisata Sumatera Utara
Tempat Wisata di Balige Menambah Pesona Indahnya Kawasan Danau Toba
Minggu, 26 Nopember 2017 | 08:04 WIB
Leluhur Batak Dipresiksi Berasal dari India Tamil
 
Indeks Berita | Indeks Foto | Indeks Terpopuler | Redaksi
2015 All Rights Reserved | Riau Bangkit